Perekonomian Negara Dimasa Pandemi

Perekonomian Negara Dimasa Pandemi

Penyebaran virus Covid-19 telah membawa krisis di berbagai belahan dunia. Tidak memandang bulu, negara-negara yang dikategorikan miskin, berkembang hingga maju pun juga mengalami masalah yang sama. Justru bagi negara-negara maju, pandemi Covid-19 justru membuat perekonomian negara terperangkap dalam resesi ekonomi yang cukup dalam.

Dilansir dari Kompaspedia.kompas.id, menyampaikan hanya negara-negara tertentu yang bisa bertahan dan bertumbuh positif perekonomiannya di saat pandemi. Misalnya saja China (2,3 persen), Vietnam (2,9 persen), dan Taiwan (2,98 persen). Diluar dari negara tersebut, pandemi telah menyerang perekonomian dunia, tak terkecuali bagi negara maju seperti Amerika Serikat (AS), Jerman, Inggris, dan Jepang. 

Pandemi Covid-19 banyak mempengaruhi sektor perekonomian secara luar biasa. Bahkan dunia telah menghadapi penurunan ekonomi dan menyebabkan kontraksi yang sangat dalam, karena mobilitas dibatasi. Sehingga banyak negara-negara melakukan kebijakan lockdown, yang membuat perekonomian merosot sangat tajam. 

Kondisi Perekonomian Indonesia di Permulaan Pandemi Covid-19

Pada november 2020, perekonomian negara Indonesia masih mengalami kontraksi, dengan kontraksi terdalam dialami wilayah Bali dan Nusa Tenggara. Hal ini disebabkan karena masih rendahnya aktivitas pariwisata, khususnya kunjungan wisatawan ke objek wisata. Sedangkan perekonomian naik di wilayah Indonesia, tepatnya di  Sulawesi Tengah dan Maluku Utara.

Secara umum perekonomian Indonesia di tahun tersebut telah mengalami penurunan, walaupun mulai triwulan ketiga membaik. Kondisi ekonomi nasional yang menurun ini, terlihat dari beberapa indikator meliputi pertumbuhan ekonomi, Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU), indeks manufaktur (PMI), retail sales index, indeks keyakinan konsumen (IKK), dan jasa keuangan.

Laju pertumbuhan ekonomi nasional di tahun 2020 juga menunjukkan kelesuan. Pada kuartal I 2020, pertumbuhan ekonomi terbilang masih 2,97 persen (yoy), namun saat memasuki kuartal II terkonstruksi hingga 5,32 persen (yoy). Saat kuartal II inilah puncak dari semua kelesuan yang dihadapi perekonomian Indonesia. 

Hampir semua sektor usaha di Indonesia ditutup untuk mencegah penyebaran virus SARS-Cov-2 penyebab Covid-19. Pemberlakuan PSBB, sebagai langkah yang dilakukan pemerintah untuk mencegah penyebaran virus, merupakan faktor utama dari penyebab kontraksi perekonomian di triwulan II tahun 2020.

Kondisi Perekonomian Indonesia Sekarang

Dilansir dari Tempo.co, pertumbuhan ekonomi di Indonesia mengalami kenaikan pada kuartal II-2021 hingga 7, 07 persen secara tahunan (yoy). Sehingga dapat diartikan, bahwa Indonesia kembali pada zona positif pertumbuhan ekonomi, setelah beberapa kali mengalami resesi. Pemerintah mengungkapkan kenaikan pertumbuhan ekonomi ini, menandakan strategi dan arah pemulihan ekonomi sudah sesuai dan telah mulai menunjukkan hasilnya.

Strategi yang mampu memulihkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia ini, salah satunya bantuan sosial. Bantuan yang diberikan ini, mampu menjaga tingkat kemiskinan dan konsumsi rumah tangga masyarakat bawah. Bantuan yang diberikan pemerintah maupun daerah kepada masyarakat bawah, mampu menekan tingkat kemiskinan, meskipun tetap mengalami kenaikan ketimbang sebelumnya. 

Langkah lainnya yang mampu memberikan kepercayaan masyarakat untuk melakukan konsumsi, didorong dengan adanya vaksinasi dan pelaksanaan protokol kesehatan. Dua aktivitas tersebut diyakini dapat membuat mobilitas masyarakat berangsur pulih , meskipun tetap dengan pembatasan. 

Pertumbuhan ekonomi negara ini secara spesial ditopang dengan adanya pertumbuhan perekonomian wilayah Jawa. Pulau Jawa memiliki andil besar, dengan pendapatan Produk Domestik Bruto (PDB) sejumlah 57,92 persen. Dilanjutkan dengan sumbangsih pertumbuhan perekonomian wilayah Sumatera dengan jumlah PDB sebanyak 21, 73 persen. Untuk wilayah Maluku-Papua mencatatkan pertumbuhan ekonomi tertinggi, dengan jumlah 8,75 persen.